Protes Halal Kok di Lawan?

Waktu para tokoh agama memprotes promosi vaksin COVID-19 karena dianggap tidak halal, para relawan RCCE Muhammadiyah di Manggarai Jakarta Selatan memilih diam. Mendengarkan secara pasif saja. Tidak membantah. Tidak menglarifikasi. Bahkan tidak pula mempertanyakan. Iya-iya saja.

Sikap demikian bukan tanpa sebab.

Pertama, mereka merasa tidak memiliki kapasitas berbicara dalam ranah agama. Kedua, mereka menghindari perdebatan yang kemungkinan tidak ada hasilnya atau bahkan merugikan hubungan mereka dengan tokoh agama.

Mereka cenderung iya-iya saja. Tapi dibalik itu, mereka tetap bekerja mengajak warga. Kalau pun ada warga yang menanyakan tentang kehalalan vaksin, mereka cenderung menghindari perdebatan dan menanggapi secara halus atau focus pada manfaat.

Sikap para relawan ternyata berbuah hasil.

Dalam sesi refleksi bersama di RPTRA Pesona Manggarai (25 Januari 2022) yang diadakan oleh Tim RCCE MPKU PP Muhammadiyah dan UNICEF, mereka mengamati lama kelamaan isu halal menghilang dengan sendirinya.

“Tokoh-tokoh agama itu juga akhirnya mau divaksin. Bahkan ada yang sempat nanya, vaksin di mana sih?” ungkap seorang relawan.

Yang diterapkan para relawan sebetulnya pendekatan komunikasi tidak langsung (indirect), yang tidak konfrontatif.

Ada banyak topik yang lebih bagus tidak dibicarakan agar tidak memicu pembicaraan yang meluas dan mempengaruhi masyarakat secara negatif. Dalam kasus di Manggarai, topik kehalalan vaksin termasuk salah satunya.

Ketika tidak dibicarakan, perhatian warga tidak terkonsentrasi ke sana. Mereka jadi lebih memperhatikan kasus COVID-19 yang kian meluas.

Saat melihat sebagian warga mendatangi layanan vaksinasi, warga lain termotivasi untuk mengikuti. Following the herd atau mengikuti kelompok, istilahnya.

Di sini, yang terjadi bukan proses rasional atau olah kognitif. Tapi cara pikir sederhana saja. Seperti model heuristic.

“Dia divaksin dan tidak apa-apa, tuh. Berarti aman, kan?”

“Lho dia divaksin. Kan agamanya bagus. Berarti boleh, dong.”

Hal yang sama kemungkinan terjadi pada tokoh-tokoh agama. “Para tokoh agama pun akhirnya ikut-ikutan divaksin kok,” cerita seorang kader.

Salah satu yang mungkin membantu tokoh-tokoh agama following the herd adalah karena mereka tidak kehilangan muka. Nah, ini terkait dengan sikap relawan yang tidak melawan waktu mereka protes tentang kehalalan vaksin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.