
BOGOR, Suara Muhammadiyah – Komitmen membangun lingkungan pesantren yang sehat terus diperkuat melalui kolaborasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (Fikes), Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA), Fakultas Agama Islam (FAI) bersama Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan penelitian terintegrasi dengan pengabdian masyarakat Program Pencegahan Penyakit Skabies di Pondok Pesantren Ki Bagus Hadikusumo, Bogor.
Kegiatan monitoring dan evaluasi (Monev) pada Ahad, 09 Agustus 2026) merupakan tindak lanjut dari rangkaian program sebelumnya, yaitu edukasi kesehatan dan pelatihan kader Santri Sehat Berkemajuan untuk Pencegahan Skabies di Pesantren Muhammadiyah, yang telah dilaksanakan pada 19 Mei 2026. Monev difokuskan pada diseminasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat, pemantauan Rencana Tindak Lanjut (RTL) upaya pencegahan skabies, serta evaluasi penerapan pengetahuan dan sikap santri dalam pencegahan skabies di lingkungan pesantren.
125 Santri Antusias Mengikuti Monev
Antusiasme terhadap keberlanjutan program terlihat dari tingginya partisipasi warga pesantren. Sebanyak 125 santri bersama ustaz dan ustazah mengikuti kegiatan yang juga dihadiri Kepala Sekolah/Musyrif SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Ki Bagus Hadikusumo, Ust. Shidiq Anshori, S.Pd.I.

Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan diskusi mengenai pelaksanaan program edukasi, berbagai kendala yang dihadapi, serta strategi perbaikan agar upaya pencegahan skabies dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Ketua Tim Penelitian Terintegrasi Pengabdian kepada Masyarakat UHAMKA, Dr. Emma Rachmawati, Dra., M.Kes., yang juga sebagai Wakil Ketua 4 (Bidang Kesehatan Masyarakat) MPKU Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampaikan bahwa hasil kegiatan pelatihan pencegahan skabies yang telah dilaksanakan memberikan dampak positif terhadap pengetahuan dan sikap santri terkait skabies. Pelatihan tersebut melalui edukasi dan skrining awal skabies pada santri yang diberikan oleh dosen Fikes, FK, dan FAI UHAMKA, yang meliputi materi Santri Sehat Berkemajuan, Skabies di Pondok Pesantren, serta Nilai-Nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan terkait pencegahan penyakit skabies.
“Hasil penelitian terintegrasi dengan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa intervensi melalui pelatihan pencegahan penyakit skabies dapat meningkatkan secara bermakna terhadap pengetahuan, sikap, dan pemahaman AIK terkait skabies pada santri.”

Dari Pengetahuan Menjadi Praktik
Salah satu indikator keberlanjutan program terlihat dari mulai diterapkannya praktik pencegahan di lingkungan pesantren. Pihak pesantren menyampaikan bahwa kegiatan seperti penjemuran kasur dan handuk santri telah dipantau secara rutin.
Menurut Dr. Emma, keberlanjutan program juga perlu didukung dengan media edukasi yang mudah dilihat dan digunakan santri dalam keseharian. Karena itu, tim pengabdian akan melanjutkan intervensi dengan menyediakan poster edukasi pencegahan skabies yang akan ditempatkan di sejumlah lokasi strategis di lingkungan pesantren.
Selain itu, muncul gagasan untuk mendorong kreativitas santri melalui lomba media edukasi digital tentang pencegahan skabies. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menjadikan santri sebagai aktor aktif dalam membangun budaya kesehatan di lingkungan pesantren.
Pesantren Dukung Keberlanjutan Program
Perwakilan Pondok Pesantren Ki Bagus Hadikusumo, Ust. Shidiq Anshori, M.Pd.I., mengapresiasi keberlanjutan kegiatan yang dilakukan oleh Fikes, FK, dan FAI UHAMKA bersama MPKU dan juga didukung penuh oleh Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) PP Muhammadiyah. Beliau menyampaikan, “Adanya kegiatan edukasi terkait skabies dan kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan dapat meningkatkan pemahaman santri terkait pencegahan skabies di lingkungan pesantren sehingga santri bisa lebih produktif dalam mengikuti proses pembelajaran.”
Kolaborasi lintas Majelis, Lembaga, dan PTMA ini diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan pemahaman dan praktik kesehatan di Pondok Pesantren Ki Bagus Hadikusumo, tetapi juga dapat memperkuat budaya hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan pendidikan berbasis pesantren. Selain itu, hasil monitoring dan evaluasi ini selanjutnya menjadi salah satu dasar untuk memperkuat dan mengembangkan upaya promotif dan preventif kesehatan di lingkungan pesantren, serta dapat menjadi contoh yang dapat direplikasi di pesantren Muhammadiyah lainnya.
(Emma R.)

