
Lima pesantren Muhammadiyah di Lamongan dan Gresik menjadi percontohan program nasional Indonesia Bebas Skabies 2030. Santri dan ustaz dilatih menjadi kader kesehatan untuk menciptakan pesantren yang bersih dan sehat.
Tagar.co – Suasana pagi di Pesantren Modern Muhammadiyah Paciran, Lamongan, Jawa Timur, tampak lebih ramai dari biasanya. Ratusan santri dan para ustaz berkumpul di aula utama, mengikuti kegiatan yang jarang terjadi di lingkungan pesantren—seremonial Deteksi Dini dan Eradikasi Skabies (Deskab) Wilayah Jawa Timur.
Acara ini digagas oleh Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama tim Deteksi Dini Skabies – Menuju Indonesia Bebas Skabies (Deskab–MIBS), dengan fokus kegiatan di dua kabupaten: Lamongan dan Gresik.
Kolaborasi untuk Indonesia Bebas Skabies
Dalam sambutan tertulisnya, Ketua Tim Deskab–MIBS, Prof. Dr. dr. Sandra Widaty, Sp.D.V, yang dibacakan oleh dr. Mufqi Handaru Priyanto, Sp.D.V., menegaskan bahwa keberhasilan eradikasi skabies tidak bisa dilakukan hanya oleh tenaga medis. “Kami membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang memiliki jangkauan luas dan kedekatan dengan komunitas sasaran,” ujarnya.
Karena itulah, kemitraan antara Deskab–Deskab dan Muhammadiyah menjadi sangat strategis. Selain memiliki jaringan pendidikan dan kesehatan yang sangat luas—dengan ratusan pesantren dan ribuan fasilitas layanan kesehatan—Muhammadiyah juga memiliki kedekatan sosial dan ideologis dengan masyarakat, serta struktur organisasi yang kuat dan berkelanjutan.

Dari Skabies Menuju Pesantren Sehat
Dr. Emma Rahmawati dari MPKU PP Muhammadiyah dalam sambutannya menambahkan, kader yang telah dilatih diharapkan menjadi kader santri husada—yakni santri yang tidak hanya peduli pada pencegahan skabies, tetapi juga
mengampanyekan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan pesantren. “Harapan kami, setiap pesantren memiliki satu ranting, satu kader kesehatan,” tegasnya.
Program ini diawali dengan pelatihan daring selama tiga hari pada akhir September hingga 1 Oktober 2025. Para peserta—ustaz dan santri dari lima pesantren Muhammadiyah—mendapat pembekalan tentang cara mendeteksi dan menanggulangi skabies secara dini, disertai modul, bahan ajar, dan aplikasi pendukung. Dengan cara ini, pengetahuan dan keterampilan dapat ditularkan secara mandiri dari satu kader ke kader lainnya.
Lima Pesantren Percontohan
Sebanyak lima pesantren Muhammadiyah menjadi pelaksana program ini, masing-masing mengirimkan 20 kader kesehatan, terdiri dari 10 ustaz dan 10 santri. Kelima pesantren tersebut adalah Pesantren Modern Muhammadiyah Paciran, Pesantren Muhammadiyah Al-Mizan, Pesantren Muhammadiyah Al-Muhajir, Pesantren Muhammadiyah Karangasem di Lamongan, serta Pesantren Muhammadiyah Madinatul Ilmi di Gresik.
Di salah satu ruang pemeriksaan Pesantren Modern Muhammadiyah Paciran, suasana tampak hidup. Beberapa santri mengenakan seragam batik khas sekolah berbaris rapi menunggu giliran diperiksa. Seorang santri senior yang sudah dilatih sebagai kader kesehatan dengan telaten memeriksa rekannya yang lebih muda sambil mencatat hasilnya di formulir Deskab.
Di sisi lain, tim medis perempuan berseragam merah muda dari MPKU PP Muhammadiyah dan Deskab–Perdoski sibuk memeriksa data, memberi edukasi, dan menyiapkan obat. Interaksi hangat antara dokter, kader santri, dan peserta pemeriksaan menciptakan suasana kolaboratif—menandakan bahwa pesantren sehat bukan sekadar slogan, melainkan gerakan nyata.

Pemeriksaan Serentak dan Pengobatan
Skabies atau gudik memang kerap menjadi persoalan kesehatan di lingkungan berasrama. Penyakit akibat infestasi parasit ini mudah menular karena kontak fisik dan kepadatan hunian.
Menurut Global Burden of Disease Study (2015), Indonesia menempati peringkat pertama di dunia sebagai negara dengan beban skabies terbesar. Bahkan, WHO pada 2017 menetapkan skabies sebagai penyakit tropis terabaikan (neglected tropical disease).
Setelah para kader menjalani pelatihan, mereka melakukan skrining skabies di lingkungan pesantren menggunakan formulir Deslab. Hasil pemeriksaan, baik yang terindikasi positif maupun negatif, dicatat dan dilaporkan kepada tim pusat. Berdasarkan data tersebut, para dokter dari Perdoksi PC Surabaya melakukan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan serentak pada Ahad, 19 Oktober 2025, di lima pesantren Muhammadiyah tersebut.
Program pengobatan juga mendapat dukungan dari PT Galenium Pharmasia Laboratories yang menyediakan obat Scabimite. Melalui kegiatan ini, diharapkan pesantren-pesantren Muhammadiyah menjadi percontohan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan bebas skabies.
Dengan semangat kolaborasi antara tenaga medis, akademisi, dan kader santri, cita-cita “Menuju Indonesia Bebas Skabies” bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata yang dimulai dari pesantren Muhammadiyah. (#)
Jurnalis Soemanto Penyunting Mohammad Nurfatoni
Sumber: https://tagar.co/lima-pesantren-muhammadiyah-jatim-jadi-percontohan-indonesia-bebas-skabies/

