
QUO VADIS INDONESIA ?
Sebuah renungan – Pradono Handojo
Minggu, 9 Nopember 2025 Jam 8:00
Hari Jumat, 7 Nopember 2025 akan terekam sejarah selamanya sebagai hari yang penuh duka bagi Indonesia. Terjadi pada hari Jumat, yang dikenal sebagai yang terbaik umat muslim. Terjadi di Masjid saat sedang berlangsung ibadah shalat jumat. Terjadi di Sekolah menjadi ruang aman yang bahkan terlindung statusnya bahkan dalam peperangan – apalagi kondisi damai. Konvensi Jenewa melindungi sekolah dari serangan dengan cara menegaskan status khusus mereka, yang berarti mereka tidak boleh diserang dan dihormati dan dilindungi setiap saat. Ada apa dengan Kita?
Pada hari itu, setelah sholat Jumat, Saya mendapat telfon dari Ibu kepala Dinas Kesehatan Jakarta yang mengabarkan bahwa ada ledakan di SMA 72 Kodamar Kelapa Gading dan agar RS Islam Cempaka Putih Bersiap karena lokasinya yang cukup dekat (hanya 5 km atau 10 menit dengan mobil). Informasi belum lengkap betul mengenai berapa jumlah korban, apa penyebabnya dan detilnya. Saya hanya menjawab SIAP – dan mengkontak tim agar bersiaga.
Kebetulan RS Islam Jakarta Cempaka Putih tahun 2024 merenovasi dan memperluas Instalasi Gawat Darurat nya menjadi dua kali lipat lebih besar menjadi 40 tempat tidur IGD. Juga memiliki Unit Luka Bakar yang mampu menangani kasus luka bakar hingga 50% sehingga layanan unggulan kami adalah salah satunya traumatology dan memiliki fasilitas dan SDM untuk penanganan emergensi massal – seperti dan termasuk penanganan korban massal akibat ledakan.
Manajemen korban ledakan memerlukan pemahaman mengenai jenis luka akibat ledakan, manajemen triase dan evakuasi.

Jenis-Jenis Luka Akibat Ledakan
Ledakan menghasilkan cedera yang kompleks karena melibatkan gelombang tekanan, energi panas, serpihan benda, hingga potensi runtuhan lingkungan. Cedera akibat ledakan umumnya dikelompokkan menjadi empat kategori utama:
- Trauma Primer
Cedera yang terjadi akibat gelombang tekanan (blast wave). Organ dengan rongga berisi udara merupakan yang paling rentan, seperti paru-paru, saluran telinga, dan saluran pencernaan. Kondisi seperti robekan gendang telinga, paru-paru pecah (blast lung), atau perforasi usus dapat terjadi tanpa luka luar yang terlihat.
- Trauma Sekunder
Cedera akibat serpihan benda (fragmentasi) yang terlempar dari pusat ledakan. Serpihan kaca, logam, atau material padat lainnya dapat menyebabkan luka robek, luka tusukan, hingga perdarahan hebat.
- Trauma Tersier
Terjadi ketika kekuatan ledakan mendorong atau melempar tubuh korban, menyebabkan patah tulang, cedera kepala, memar organ dalam, atau trauma mirip kecelakaan lalu lintas.
- Trauma Kuarterner
Cedera tambahan seperti luka bakar akibat panas ledakan, sesak napas akibat asap atau debu, keracunan zat kimia, atau cedera akibat runtuhan struktur bangunan.

Karakteristik ini membuat trauma ledakan sering melibatkan multi-organ, dengan tingkat keparahan berbeda-beda, sehingga memerlukan penilaian cepat dan penanganan terkoordinasi.
Pentingnya Penanganan di Lokasi, Evakuasi, dan Triase
Penanganan awal di lokasi kejadian merupakan faktor penentu keselamatan korban. Pada fase ini, dua hal paling penting adalah pertolongan pertama (first aid) dan triase.
1. Pertolongan Pertama di Lokasi Kejadian
- Mengamankan lokasi untuk menghindari ledakan susulan dan risiko tambahan.
- Menilai jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABCDE assessment). ABCDE adalah Airway – Breathing – Circulation – Disability dan Exposure.
- Menghentikan perdarahan masif dengan perban tekan atau tourniquet bila diperlukan.
- Memberikan oksigen dan menyiapkan evakuasi terstruktur.
- Pertolongan pertama yang tepat dapat mencegah syok, hipoksia, dan perburukan cedera internal yang tidak tampak dari luar.
2. Triase: Menentukan Prioritas Korban
Triase adalah proses memilah korban berdasarkan tingkat keparahan untuk menentukan siapa yang harus ditangani terlebih dahulu.
Pada insiden ledakan, jumlah korban sering lebih banyak daripada sumber daya. Tanpa triase, tenaga medis berisiko besar menemui overload, yang dapat meningkatkan angka kematian.
Triase memastikan:
- Korban dengan ancaman nyawa segera tertangani.
- Transportasi ke fasilitas kesehatan lebih efisien.
- Rumah sakit menerima korban sesuai kapasitas dan tingkat kedaruratan.
3. Evakuasi dan Penanganan di Rumah Sakit
Proses rujukan harus terkoordinasi, idealnya menuju rumah sakit dengan fasilitas trauma. Di ruang gawat darurat, penilaian ulang dilakukan karena cedera internal dapat berkembang setelah beberapa jam.

Pengelolaan Trauma di Rumah Sakit: Pentingnya Tim Multidisipliner
Karena trauma ledakan melibatkan banyak sistem organ, penanganan optimal hanya dapat tercapai melalui kerja tim multidisipliner. Tim ini melibatkan dokter kegawatdaruratan, bedah umum, bedah ortopedi, bedah saraf, radiologi, anestesi, perawat trauma, hingga rehabilitasi medik dan layanan psikososial.
Tiga aspek inti dalam keberhasilan penanganan tim adalah:
- Kompetensi
Semua tenaga medis harus memiliki keterampilan penilaian trauma, stabilisasi hemodinamik, teknik operasi emergensi, serta tata laksana luka kompleks.
- Komunikasi
Informasi antar tim harus jelas, cepat, dan berbasis protokol untuk mencegah keterlambatan atau kesalahan tindakan.
- Koordinasi
Setiap disiplin memiliki perannya. Kejelasan alur rujukan internal, jadwal tindakan operasi, hingga perencanaan pemulihan menjadi kunci pemulihan jangka panjang.
Penutup: Faktor Sukses Penanganan Korban Ledakan Bom
Keberhasilan penanganan korban ledakan sangat ditentukan oleh:
• Respons cepat dan aman di lokasi kejadian.
• Triase yang tepat untuk menentukan prioritas penanganan.
• Proses evakuasi terkoordinasi hingga ke rumah sakit.
• Kolaborasi multidisipliner yang terstruktur.
• Komunikasi yang efektif antar tim medis dan pemangku kebijakan.

Insiden ledakan yang terjadi di SMA 72 Kelapa Gading baru-baru ini menjadi pengingat bahwa peristiwa ledakan tidak hanya terjadi di situasi konflik, tetapi juga dapat muncul dalam konteks lingkungan pendidikan dan sosial. Kasus tersebut menunjukkan betapa pentingnya kesiapan pertolongan pertama, penanganan cepat, serta rujukan medis yang tepat untuk mencegah perburukan kondisi korban dan memastikan pemulihan optimal. Keselamatan korban ledakan tidak hanya bergantung pada kemampuan klinis, tetapi juga pada kemampuan untuk bergerak cepat, menilai tepat, dan bekerja bersama secara terkoordinasi. Syukur Alhamdulilah, pada waktu kejadian, di RS Islam Jakarta Cempaka Putih juga sedang Bersiap di IGD untuk pergantian shift. Shift pagi sedang Bersiap mau operan ke shift siang. Maka pada saat itu ada kekuatan SDM dua shift yang langsung bisa didayagunakan. Para dokter yang berdinas di tempat lain (Paviliun, Poliklinik dan manajemen) dialihfungsikan ke IGD. Juga Ko-Ass atau dokter muda dari FK Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk melakukan triage dan penanganan yang optimal. Kamar Operasi kami bekerja mulai jam 14:30 siang dan operasi terakhir baru selesai Tengah malam saat hari berganti ke hari Sabtu, 8 Desember 2025. Dokter Bedah Ortopedi, Dokter Bedah Plastik, Dokter Bedah Anak, Dokter Bedah Umum beserta Dokter Spesialis Anastesi Bersama tim Perawat dan OK mengeluarkan satu demi satu serpihan logam, dan membersihkan luka bakar maupun luka tembus serta menjahit luka. Mungkin selama sehari ini kita merasakan apa yang dirasakan di rumah sakit di zona perang.
Menjelang Subuh, hari Sabtu semua operasi selesai dan pasien mulai dipindahkan ke ruang perawatan. Suasana di IGD mulai kembali normal dan pasien-pasien yang datang adalah pasien “normal” seperti serangan jantung atau stroke.
Dua hari setelah kejadian, pada hari minggu tanggal 9 Nopember 2025 ini selepas fajar, Saya menuliskan catatan kecil bahwa kami bersyukur bisa menjadi bahagian kecil dari proses penyembuhan jasmani para korban ledakan SMA 72 yang insya Allah kita doakan segera bisa pulih dan pulang ke rumah masing-masing dan melanjutkan Pendidikan. Pekerjaan Besar kita Bersama mulai hari minggu ini adalah memikirkan bagaimana agar sebagai bangs akita bisa mengambil pembelajaran agar aksi serupa tidak terulang kembali. Dan ini menurut kami adalah PR bangsa yang lebih besar yang membutuhkan pemikiran dan Tindakan semua pihak supaya anak-anak kita di sekolah dapat sekolah dengan aman dan tentram.
Terimakasih atas kepercayaan Pemerintah DKI Jakarta kepada RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan semua unsur pemerintahan baik di Pusat maupun Propinsi. Terimakasih Saya kepada semua civitas hospitalia RSIJCP. Kami mohon doanya agar semua bisa kembali sehat.
Pradono Handojo (Jack)
Direktur Utama RS Islam Jakarta Cempaka Putih

