Nasyiatul Aisyiyah dan UNFPA Bahas Hasil Asesmen Kesehatan Reproduksi dalam Buku Muhammadiyah

JAKARTA – Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PP NA) bersama United Nations Population Fund (UNFPA) mendiskusikan hasil asesmen kandungan materi kesehatan reproduksi remaja dalam buku ajar sekolah, madrasah, dan pesantren Muhammadiyah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif, sesuai kebutuhan peserta didik, serta selaras dengan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.

Pembahasan berlangsung dalam pertemuan koordinasi rutin di Hotel Novotel Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026). Pertemuan dihadiri jajaran PP Nasyiatul Aisyiyah, perwakilan UNFPA, serta tim peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKM UMJ), Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PP Muhammadiyah, dan Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) PP Muhammadiyah.

Dalam pengantarnya, Koordinator Program Kespro, Lesti Kaslati Siregar, menyampaikan apresiasi atas konsistensi seluruh pihak dalam menjalankan penelitian bertajuk Analisis Konten Buku-Buku Muhammadiyah terkait Kesehatan Reproduksi Remaja. Setelah melewati tahapan analisis dan validasi data, tim kini membahas hasil sementara asesmen pada jenjang SMP/MTs/Pondok Pesantren.

“Alhamdulillah, kita sudah bisa memetakan buku-buku untuk tingkat SMP/MTs/Pesantren. Para peneliti juga telah melakukan pendalaman dengan guru dan siswa di Lampung, Yogyakarta, Semarang, dan Makassar,” ujar Lesti.

Lesti menambahkan bahwa para peneliti akan menyampaikan laporan secara penuh serta menggelar seminar komprehensif pada awal Desember 2026 mendatang untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA dan pesantren. Dari hasil asesmen ini, pemetaan konten kesehatan reproduksi pada buku-buku terbitan Muhammadiyah dapat diketahui secara utuh.

Mewakili Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Lia Karisma Saraswati mengapresiasi dukungan UNFPA yang terus mendampingi upaya penguatan pendidikan kesehatan reproduksi remaja.

“Hasil riset dan agenda advokasi ini telah kami komunikasikan kepada sejumlah pemangku kebijakan, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, serta Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Dr. Didik Suhardi. Alhamdulillah, respons beliau berdua sangat positif dan mengapresiasi program ini,” kata Lia.

Menurut Lia, Muhammadiyah memiliki modal kelembagaan yang kuat untuk menindaklanjuti hasil penelitian. Koordinasi struktural dari tingkat pusat hingga daerah memungkinkan kebijakan dan rekomendasi yang disepakati bersama diterjemahkan menjadi program nyata di satuan pendidikan.

“Muhammadiyah mempunyai sistem koordinasi struktural yang sangat kuat. Apa yang disepakati di tingkat pusat dapat disatukan suaranya dan diimplementasikan secara struktural hingga ke tingkat bawah,” ungkapnya.

Sementara itu, Perwakilan UNFPA, Margaretha Sitanggang, menilai kemitraan ini memiliki arti strategis. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja di lingkungan sekolah Muhammadiyah menjadi salah satu program unggulan dalam kerangka kerja sama bidang gender hingga 2030.

“Kami dari UNFPA senang dapat bekerja sama dengan Muhammadiyah. Ini adalah kemitraan yang strategis karena Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah, madrasah, dan pesantren. Kami siap mendukung Muhammadiyah dalam menindaklanjuti pelatihan dan temuan penelitian nantinya,” ujar sosok yang akrab disapa Reta tersebut.

Reta menekankan pentingnya kecermatan dalam proses asesmen agar rekomendasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. “Pekerjaan ini sangat serius. Karena kemitraan kita berjalan panjang hingga 2030, tidak apa-apa kita lakukan secara matang dan mendalam—biar lambat asal selamat,” tambahnya.

Temuan Lapangan dan Rekomendasi

Acara dilanjutkan dengan pemaparan hasil pemetaan sementara jenjang SMP oleh tim peneliti yang diwakili Ade Nurfadhilah dan Arum Ariasih. Temuan disusun berdasarkan peninjauan di Jawa Tengah, Lampung, DIY, dan Sulawesi Selatan.

Ade Nurfadhilah menjelaskan bahwa materi kesehatan reproduksi sejatinya telah tersebar dalam berbagai mata pelajaran, seperti Fikih (bahasan taharah, akil balig, mandi wajib, menstruasi, istihadah, dan ihtilam), Akidah Akhlak (pengendalian emosi dan nafsu), serta Kemuhammadiyahan (Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah). Unsur lainnya juga ditemukan dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadis, Kaligrafi, Tapak Suci, dan Bahasa.

“Tim peneliti mengidentifikasi delapan tema yang berulang, yakni pubertas, menstruasi, mimpi basah (ihtilam), bersuci dan mandi wajib, kebersihan reproduksi, akhlak/adab pergaulan, regulasi emosi, serta relasi interpersonal,” jelas Ade.

Meski materi telah tersedia, keterhubungan antarmateri perlu diperkuat agar siswa memperoleh pemahaman yang utuh dan sistematis.

Di sisi lain, Arum Ariasih memaparkan sejumlah tantangan di lapangan. Pembahasan sistem reproduksi yang baru diberikan pada akhir jenjang SMP dinilai perlu disesuaikan kembali, mengingat banyak anak yang telah memasuki masa pubertas lebih awal. Selain itu, isu seputar mitos informasi digital, sanitasi, pengelolaan pembalut, hingga pertanyaan medis seperti keputihan dan kista rahim membutuhkan penjelasan yang tepat.

“Dinamika pembelajaran juga menjadi perhatian. Di kelas campuran laki-laki dan perempuan, pembahasan topik tertentu kadang memunculkan kegaduhan sehingga guru memerlukan metode khusus, seperti diskusi kelompok terpisah. Di pesantren, musyrif dan musyrifah memiliki peran strategis karena kedekatan dengan santri,” terang Arum.

Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merumuskan sejumlah rekomendasi:

  • Penyusunan modul mikro kesehatan reproduksi sebagai suplemen pembelajaran.
  • Peningkatan sarana dan media visual pembelajaran.
  • Pelatihan bagi guru, musyrif, dan musyrifah melalui Training of Trainers (ToT).
  • Penyediaan ruang konseling yang aman serta layanan konsultasi terpusat.
  • Kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan pelibatan orang tua.

Mengakhiri kegiatan, Lesti berharap perluasan kajian ke jenjang SD dan SMA dapat memberikan gambaran menyeluruh. “Melalui kolaborasi ini, sekolah, madrasah, dan pesantren Muhammadiyah diharapkan semakin siap memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang benar, ilmiah, ramah remaja, dan bertanggung jawab berlandaskan nilai-nilai keislaman,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.