Lima Pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah Siap Wujudkan Kader Kulit Sehat

Sukoharjo, Suara ‘Aisyiyah – Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berkolaborasi dengan Deteksi Dini Skabies – Menuju Indonesia Bebas Skabies (DESKAB-MIBS) menyelenggarakan kegiatan Deteksi Dini dan Eradikasi Skabies.

Kegiatan bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ahad, (23/11/25). Sebelumnya, pada 19 Oktober, kegiatan yang sama sukses dilaksanakan di Jawa Timur. Saat ini lanjut di Jawa Tengah dengan konsenterasi di Kabupaten Sukoharjo.

Ada lima pesantren Muhammadiyah di Sukoharjo yang mengikuti program ini. Antara lain Pesantren Muhammadiyah Sangen, Atmowahyono, Al-Hikmah, K.H. Ahmad Dahlan dan Pesantren Mahasiswa K.H. Mas Mansyur.

Masing-masing pesantren mengirimkan 20 peserta. Terdiri dari ustaz dan santri sebagai calon kader Kesehatan untuk mengikuti pelatihan.

Sebelumnya, pelatihan dilakukan secara daring bagi para ustaz dan santri selama tiga hari, yakni akhir September sampai dengan 1 Oktober 2025. Tujuan pelatihan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka sebagai kader kesehatan di pesantren agar dapat melakukan deteksi dini dan eradikasi skabies. Harapannya, dapat menurunkan prevalensi skabies di Pesantren Muhammadiyah.

Perluas Jaringan Kader Kulit Sehat

Selain itu dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan dari hasil pelatihan, kader kesehatan di pesantren akan dapat meneruskan kaderisasi secara mandiri melalui modul, bahan ajar, dan aplikasi sehingga dapat memperluas jaringan kader kulit sehat (Training for Trainer).

Kader Kesehatan ini menjadi sangat penting, karena, kontak fisik antar santri di pesantren sangatlah erat. Penghuni per satu kamar tidur dapat mencapai lebih dari 5 orang, bahkan ada yang lebih dari 10 orang.

Kondisi ini akan mempermudah penularan skabies. Santri yang terkena skabies akan merasakan gatal dan menganggu konsentarasi belajar, akibatnya prestasi menurun.

Berbekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan, para kader kesehatan melakukan skrining skabies kepada para santri di Pesantren masing-masing dengan menggunakan Form Deskab.

Hasil skrining baik yang dicurigai positif skabies maupun yang tidak, semua dicatat dan dilaporkan kepada tim Deskab. Kemudian para dokter secara serentak akan melakukan pemeriksaan ulang di lima pesantren, untuk mengkonfirmasi apakah hasil skrining yang dilakukan para kader kesehatan sudah benar atau belum.

Jika benar, artinya pelatihan yang telah dilaksanakan selama tiga hari itu sudah berhasil. Selain mengkonfirmasi hasil skrining, para dokter juga melakukan pengobatan bagi santri yang terkena skabies di lima Pesantren Muhammadiyah tersebut, dengan dukungan obat Scabimite dari PT. Galenium Pharmasia laboratories.

Agus Ahmad Yani dari PT. Galenium merasa bangga dapat mendukung kegiatan ini, sehingga santri tetap bisa belajar dengan nyaman tanpa harus terganggu skabies.

Hapuskan Stigma Santri Identik Skabies

Dokter Flora, Dekan Fakultas Kedokteran UMS menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting dan harus digaungkan. “Santri itu indentik dengan stigma skabies, padahal tidak. Asalkan dilakukan konseling, edukasi, secara masif, terstruktur by design,” ungkapnya.

Menurutnya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan aksi. “Kalau bukan kita siapa lagi, kalua bukan sekarang kapan lagi,” ungkapnya.

Baca Juga: Lima Pesantren Muhammadiyah Cegah Skabies, Wujudkan Santri Husada

Oleh karena itu dengan telah ditandatangani MoU dengan MPKU PP Muhammadiyah, memberi makna bahwa kegiatan ini bukan saja hari ini, tetapi mesti berkelanjutan, untuk menjadikan para santri sebagai ujung tombak eradikasi skabies secara mandiri dan menjadi corong eradikasi.

Ketua Umum PERDOSKI, Hanny Nilasari, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sandra Widaty, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen PERDOSKI dalam meningkatkan kesehatan kulit masyarakat, khususnya dalam pencegahan dan pengendalian penyakit skabies.

“Skabies ini merupakan masalah kesehatan kulit yang masih sering kita temui di lingkungan pesantren dan tempat tinggal komunal,” ucapnya.

Pentingnya Edukasi dan Deteksi Dini

Dia mengatakan, skabies bukan hanya permasalahan medis, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup, kenyamanan belajar, dan produktivitas para santri. Karena itulah, upaya deteksi dini, edukasi, serta eradikasi menjadi sangat penting.

Lebih lanjut, Hanny berharap, kegiatan tersebut tidak hanya sekadar pemeriksaan dan penanganan, tetapi juga menjadi momentum edukasi, agar para santri, pengurus, dan masyarakat sekitar semakin memahami pentingnya kebersihan diri, kebersihan lingkungan, serta pencegahan penularan penyakit kulit.

Husnan Nurjuman dari MPKU PP Muhammadiyah menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari perwujudan paham agama Muhammadiyah.

“Dalam Himpunan Putusan Tarjih, Muhammadiyah mendefinisikan agama sebagai ad-diin yang berarti segala sesuatu yang disyariatkan Allah melalui lisan para nabinya
Bisa berupa perintah, larangan dan petunjuk, untuk kemaslahatan manusia, di dunia dan akhirat,” jelasnya.

Muhammadiyah memahami bahwa tujuan beragama adalah membuat kemaslahatan bagi sesama manusia. “Maka kami meyakini, bahwa kegiatan hari ini tidak lepas dari kerangka mengamalkan pandangan keagamaan Muhammadiyah, yaitu senantiasa mengambil peran dalam upaya-upaya memaslahatkan kehidupan manusia,” pungkasnya. (Soemanto)-Nely

Sumber: https://suaraaisyiyah.id/lima-pesantren-muhammadiyah-di-jawa-tengah-siap-wujudkan-kader-kulit-sehat/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.